Tampilkan postingan dengan label Fanfict. Tampilkan semua postingan

Batas Dunia Ch. 2

Oleh Ian Davin
Kamu pulang dari sekolah, kamu langsung bergegas ke rumah. Kamu masuk ke kamarmu dan melempar tas ke atas kasur. Kamu langsung membuka baju dan menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Kamu terburu – buru karena ingin bermain bersama anak itu, Tata.

Cia! Udah sore! Ayo masuk sini!”, ucap seseorang dari kejauhan.
                “Nama kamu CIa?”, kamu bertanya kepada anak itu.
                “Aku Thalia, tapi di panggil sama mami-ku Cia”, ucap anak itu sambil terus menggali dengan tangannya.
                “Aku panggil kamu Cia aja ya”, ucapmu kepadanya.
                “Jangan! Kamu panggil aku Tata aja”, ucap Tata.
                “Oh, Ya udah”, ucapmu sambil mengangguk dan kembali menggali tanah.
                “Kalau nama kamu siapa ya?”, tanya Tata kepadamu.
                “……”
                “Cia! Ayo mandi dulu! Udah sore!”, sebelum kamu menjawabnya, seseorang kembali berteriak dari kejauhan.
                “Kamu aku panggil A’a aja ya, hehehe…. Kayak Pak Fathur”, ucap Tata lalu berdiri dan berteriak, “Iya! Sebentar lagi!”, teriak Tata kearah jendela rumahnya.


Kamu mengingat semua yang terjadi beberapa hari sebelumnya, kamu diberikan sebuah hadiah dari Pak Fathur berupa sebuah biji pohon sycamore , sejenis pohon ara. Kamu dan Tata berjanji untuk merawatnya setiap hari. Setiap hari kalian berdua merawat biji itu, dan di waktu sisanya kalian bermain segala macam permainan, entah rumah – rumahan, petak umpet bersama Pak Fathur, dan permainan tradisional lainnya. Maka dari itu hari itu pun kamu pergi ke rumah Tata untuk membantu Tata merawat biji yang kamu tanam beberapa hari sebelumnya. Setelah bersiap – siap, kamu bergegas lari keluar dari rumahmu.
“De!, mau kemana?”, teriak Ibumu dari dalam dapur.
Kamu berhenti sebentar dan berteriak, “Kerumah teman!”, dan kamu langsung kembali berlari keluar. Kamu mendengar kembali suara teriakan Ibumu tetapi kamu tidak dapat menangkapnya karena kamu sudah berada terlalu jauh untuk mendengar apa yang dikatakan ibumu.
Kamu berlari ke rumah Tata, Tata sudah melambai – lambai di depan rumah Pak Fathur. Kamu langsung tersenyum ke arahnya sebelum dia berlari masuk ke dalam rumah. Kamu berlari mengikutinya sampai meninggalkan pintu rumah Pak Fathur terbuka. Kamu keluar melalui pintu menuju rumah Tata, dan kau mendengar suara Pak Fathur dari belakang “Neng Thalia, pakai sandal atuh”, ujar Pak Fathur. Tata memang anak yang bisa dibilang agak hiperaktif, dia suka sekali berlari kesana – kesini sehingga terkadang membuatmu kewalahan. Dia juga tidak pernah memakai alas kaki jika bermain di tamannya.
“Sini! Sini A’!”, Teriak Tata yang kini berdiri di dekat sebuah gundukan kecil dekat tembok tinggi rumahnya. Tata lalu jongkok memperhatikan gundukan itu. Kamu juga ikut jongkok lalu bertanya kepada Tata, “Ta, udah kamu siram?”, ucapmu kepadanya. Lalu Tata menjawab, “Udah dong!”, jawabnya sambil tersenyum.
“Oh iya, Pak Fathur tadi ngasih kita pupuk loh!”, ucap Tata. “Pupuk? Buat apa itu?”, tanyamu. “Kata Pak Fathur sih supaya nanti tanamannya sehat”, jawab Tata sambil mengelus – elus gundukan kecil itu.
Lalu tiba – tiba seseorang berkata, “Ta! Kamu ngapain?”, ujar suara tersebut. Kamu menengok kearah pemilik suara itu dan melihat seorang anak lelaki yang berpakaian rapi, memakai sandal, rambutnya sangat tersisir rapi.
“Eh! Deryl! Aku lagi maen apa ya? Aku lagi maen ngurusin anak nih !”, ucap Tata kepadanya dengan nada gembira, “Aku ibunya, dia Ayahnya! Nah anaknya ini nih”, ucap Tata mengelus – elus gundukan kecil itu. Entah kenapa kamu merasa malu dibilang sebagai Ayah. Tetapi kamu juga merasa senang.
Tetapi sepertinya anak bernama Deryl itu tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan Tata. Dia lalu berteriak, “Kotor tau!”, sambil menendang gundukan kecil itu berkali – kali sampai tanahnya berserakan. Kamu melihat gundukan tanah yang kini berserakan, kamu sangat kesal, dan kamu tidak bisa mengendalikan diri sehingga kamu memukul anak itu. Duk! Kamu memukul anak itu tepat di pipi kanannya. Kamu ingin memukul anak itu sekali lagi tetapi Tata menghentikanmu, “Jangan A’! Udah!”, Anak itu terjatuh dan air mata mulai mengalir dari matanya, ia melihat mu dengan wajah kesal sebelum berlari sambil menangis ke dalam rumah Tata. Kamu tahu bahwa kamu berada dalam masalah.
Benar saja, Ibu Deryl dan kedua orang tua Tata keluar dari dalam rumah lalu memanggil Kamu dan Tata. “Kamu kok bandel banget sih! Maen pukul – pukul aja!”, bentak Ibu Deryl kepadamu. “A’a ngga salah! Orang Deryl duluan yang iseng!”, Tata membelamu didepan Deryl dan Ibunya. “Tetap aja ngga boleh mukul dong! Kecil – kecil udah kasar”, bentak Ibu Deryl. “Udah lah Bu, namanya juga anak laki – laki, berantem wajar”, ucap Ayah Tata menenangkan Ibu Deryl. Ibu Deryl tidak mengacuhkan omongan Ayah Tata dan berkata kepada orangtua Tata, “Mas, ini bilangin ke anak ini, kalo kasar jangan main sama Cia”, ucap Ibu Deryl kepada Ayah Tata.
Orangtua Tata hanya bisa diam, bukannya mereka takut kepada Ibu Deryl, mereka tidak ingin masalah yang bertambah besar. “Nak, pulang gih sana, kalau kasar ngga boleh main sama Cia”, kamu diam dan lalu berbalik badan dengan mata yang berkaca – kaca karena takut setelah dibentak Ibu Deryl. “Tapi A’a ngga salah pah!”, kamu bisa mendengar Tata merengek. Hari itu kamu pulang kerumah dengan perasaan sedih. Baru saja beberapa hari mengenal Tata, tetapi karena kejadian tadi itu kamu berpikir kamu mungkin tidak akan bisa bermain dengan Tata lagi.
Kamu menjalani dua hari berturut – turut tanpa bermain bersama Tata, setelah kejadian itu pun entah mengapa kamu selalu berjalan melewati tembok rumah Tata dengan terburu – buru. Dan di hari selanjutnya kamu pun tidak bermain bersama Tata, kamu menghabiskan hari dengan membaca komik dan menonton film kartun dirumah.
Setelah matahari tenggelam, kamu makan malam bersama keluargamu di ruang makan. Kamu kehilangan nafsu makan karena bosan, atau mungkin karena kamu merindukan Tata.  Kamu rindu bermain dengannya.
Saat kamu melihat keluar jendela rumahmu, kamu melihat sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Tata. Kamu langsung berlari keluar rumah dan mendekati Tata yang berdiri dengan ekspresi sedih.
“Tata, kamu ngapain?”, tanyamu kepada Tata yang matanya berkaca –kaca.
Dia tidak menjawab pertanyaanmu, matanya semakin bertambah basah dan mukanya menjadi cemberut. Akhirnya pun Tata menangis, “Huaaaaaaa……..”, dia hanya menangis tetapi kamu bisa tahu kenapa dia menangis. Dia juga merindukanmu.
Kamu memegang tangan Tata dengan erat, “Udah jangan nangis”, kamu memutuskan untuk membawa Tata masuk kerumahmu dan bicara kepada ibumu.

Ibumu lalu berkata setelah melihat Tata yang menangis, “Loh , itu kenapa nangis de?”, tanya ibumu sambil mendekati Tata. Ibumu lalu mengajak Tata untuk duduk di meja makan rumahmu, dan memberikannya toples berisi coklat. Coklat itu adalah favoritmu dan kamu tidak suka membaginya dengan orang lain. Tetapi entah kenapa kamu tidak apa membagi coklat itu kepada Tata, karena setelah makan coklat itu, Tata langsung berhenti menangis.
“Enak kan?” , ucap Ibumu kepada Tata. Ekspresi Tata kembali menjadi cerah, dia tersenyum kepada Ibumu. “Nama kamu siapa?”, tanya Ibuku kepada Tata. “Thalia…”, jawab Tata dengan suara yang masih serak.
“De, nanti kita antar Thalia pulang ya”, ujar Ibumu. Kamu mengangguk.
“De, nanti kamu antar aku pulang ya”, ucap Tata dengan wajah tersenyum. Ibumu tersenyum sambil mengelus – elus kepala Tata. Kamu agak kesal karena dipanggil “De” oleh Tata.
Lalu setelah itu kamu dan Ibumu mengantar Tata pulang. Sepanjang jalan Tata terus menggenggam erat tanganmu, dia benar – benar rindu kepadamu. Membuatmu berpikir apakah dia tidak mempunyai teman lain? Bagaimana dengan anak yang ada kemarin?
Kamu menyangkal pikiran itu dan akhirnya sampai didepan rumah Pak Fathur. Sesampainya, Pak Fathur langsung memanggil kedua orangtua Tata. Mereka berdua sangat khawatir karena Tata menghilang setelah matahari tenggelam. Kedua orangtua Tata berterima kasih kepadamu dan Ibumu, dan juga meminta maaf atas kejadian beberapa hari sebelumnya. Mereka bilang Tata sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Eh, kamu ini kok bandel ya maen mukul mukul aja”, ucap Ibumu.
“Haha, tapi ngga apa apa kok Bu, laki – laki harus bisa ngelindungin anaknya”, ucap Ayah Tata. Mungkin dia berkata begitu karena kamu memukul anak itu karena dia telah mengganggu apa yang sedang kamu rawat, biji pohon sycamore itu.
“Tapi bukan berarti kekerasan itu jawaban dari semuanya ya”, ucap ayah Tata sambil mengelus – elus kepalamu. Dengan itu pun kamu pamit kepada Tata dan keluarganya.
“Besok main ya!”, teriak Tata kepadamu. Kamu menjawab, “Iya!”, dengan semangat.


—————————————————————————————————————
Kamu bangun dari tempat tidurmu, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Kamu berpikir apa yang harus kamu lakukan pada liburan kali ini. Karena kamu bukanlah orang yang suka berdiam diri tidak melakukan apa – apa. Kamu mengingat janjimu kemarin malam setelah bertemu dengan Tata setelah sekian lama.

“Udah lama ya”, ucap Tata kepadamu.
                Kamu hanya bisa diam menatap sosok yang familiar itu, sosok yang mungkin adalah satu – satunya orang yang mengerti kamu.
                “Kok diem aja”, ucap Tata sambil melambai – lambaikan tangan menarik perhatianmu.
“Eh…iya, kamu masih disini?”, tanyamu kepada Tata.
                “Iya dong, aku sih ngga pernah pindah”, ucap Tata dengan nada yang gembira.
                “Eh udah nih, udah malam. Besok aku kerumah kamu ya!”, ucap Tata dengan gembira sebelum menghilang turun dari tembok.
                “Dadaah!”, kamu mendengar suara Tata dari balik tembok. Kamu belum sempat menjawab apa – apa, dia sudah menghilang.

Kamu duduk di pinggir kasur. Kamu berniat untuk merapihkan rumahmu lagi karena Tata bilang dia ingin main kerumahmu. Tetapi saat kamu melangkah keluar kamu merasa rumahmu sudah lebih rapi daripada sebelumnya. Dan saat kamu melangkah keluar dari kamar,
“Oy! Udah aku bantuin ngerapihin rumah nih!”, Ucap Tata yang duduk di kursi meja makan.
Kamu terkaget karena Tata tiba – tiba muncul di dalam rumahmu, “Kamu gimana masuknya?”, tanyamu kepada Tata. Kamu mengecek pintu rumah namun pintunya terkunci, lalu Tata berkata dari belakang, “Tadi ngga terkunci kok”, ucap Tata membuatmu bersyukur karena yang masuk hanyalah Tata, bukan pencuri atau siapapun yang berbahaya.
“Eh! Hari ini kita main ke Taman yuk!”, ucap Tata yang tiba – tiba ada di depanmu setelah kamu berbalik badan.
“Hah? Ngapain?”, tanyamu kepadanya. Kamu berpikir kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah tidak bisa bermain apa – apa lagi di taman. Kamu tidak mau.
“Ayolah ikut aja!”, rengek Tata yang mengikutimu kemanapun kamu melangkah. Kamu tidak bisa melawan Tata. Kamu akhirnya setuju untuk pergi ke taman. Tetapi kamu teringat akan satu anak lagi yang kamu temui disini, Deryl. Anak yang selalu kamu benci, tetapi tak diragukan lagi Deryl dan Tata adalah 2 teman masa kecilmu, dan kamu ingin bermain kembali bersama mereka berdua. Kamu meminta kontak Deryl kepada Ibumu, karena setelah satu hal dan hal lainnya, Ibu Deryl dan Ibumu menjadi sahabat.

Sumber : http://davinsuniverse.wordpress.com/2014/08/25/batas-dunia-ch-2/

Batas Dunia Ch. 1

Oleh Ian Davin
Saat aku kecil, Aku selalu ingin tahu apa yang ada dibalik tembok itu. Aku selalu membayangkan bahwa di balik tembok itu ada dunia lain yang tanahnya belum aku jelajahi. Aku selalu membayangkan bahwa di balik tembok itu ada seseorang yang mengerti aku, Aku yang selalu dicemooh oleh mereka karena hal – hal yang aku katakan. Mereka tidak pernah percaya apa yang aku katakan. Mereka tidak mengacuhkan apa yang aku katakan. Mereka meremehkan cita – citaku yang ingin menjadi orang besar. Maka dari itu, saat kecil aku memilih untuk tidak mempunyai teman. Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan seseorang yang dapat mengerti aku, seseorang yang mengacuhkan apa yang aku katakan dengan caranya sendiri. Aku bertemu dengan seorang teman yang berasal dari balik tembok itu.
“Ta! Lihat nih!”
“Mana? SIni! Ayo! Sini kasih lihat!”



Kamu membuka matamu, kamu menyadari mimpi aneh itu membuka sebuah kotak yang telah lama kamu simpan di dalam hatimu. Mimpi itu tentang sebuah anak berambut panjang yang sangat ceria, yang menjadi teman pertamamu di rumah yang dulu kamu tinggali bersama dengan kedua orang tuamu.
Kamu bangkit dari tempat tidur dan mengambil sepucuk surat di atas meja belajarmu, surat itu adalah berita tentang pemberian warisan tanah kepadamu, yang kemarin dikirimkan orangtuamu sebagai kejutan di ulang tahunmu. Kamu yang selama ini tinggal di kos – kosan mulai ingin pindah ke tempat yang lebih nyaman, dan kini mimpi tentang anak berambut panjang itu membuatmu semakin ingin pergi ke rumah masa kecilmu. Dan karena mimpi yang aneh tadi, kamu mengingat sebuah tempat yang sangat membekas di hatimu. Sebuah tembok tinggi yang ada di dekat rumahmu yang dulu.

Hari itu, Kamu baru saja pulang dari sekolah. Kamu biasa berjalan pulang dari sekolah, setiap berjalan kamu pasti berhenti sebentar untuk mengamati tembok yang berada tidak jauh dari rumahmu. Tembok itu berwarna putih dengan bercak hitam bekas sentuhan tangan orang lain. Kamu melihat tembok itu dan selalu bertanya – tanya pada diri sendiri, “Ada apa di balik sana?”, karena tembok itu sangatlah tinggi dari perspektif seorang anak kelas 2 SD, Kamu tidak bisa melihat apa – apa.
Saat kamu membayangkan apa yang ada di balik tembok itu, kamu mendengar suara seperti ada yang terjatuh dari balik tembok itu. Kamu terkaget dan mencoba menempelkan telingamu ke tembok itu untuk mendengar lebih jelas, dan kamu mendengar suara yang terlalu kecil untuk bisa diketahui suara apa itu. Kamu mundur beberapa langkah dan melihat kembali ke arah atas tembok itu, semakin penasaran apa yang ada di balik sana. Tetapi, karena matahari bersinar sangat terik, Kamu lalu memutuskan untuk pergi pulang sambil mengibas – ngibaskan kerah seragam sekolahmu.
Mood-mu saat itu sangatlah buruk, yang pertama karena kamu telah dipisahkan dari “teman imajinasi” oleh Ibu, yang kedua dimarahi Guru-mu karena bilang “bodoh” yang bagi seorang anak SD kelas 2 adalah kata – kata yang cukup kasar, dan yang ketiga kamu kelupaan membawa pianika yang kamu simpan di kolong meja kelas. Sesaat kamu mengingat tentang itu, kamu langsung bergegas kembali ke sekolah karena takut dimarahi Ibu jika pulang tanpa membawa pianika.
Kamu melewati tembok itu lagi, tapi kamu tidak sempat mengamati tembok itu, kamu langsung bergegas lari ke sekolah karena ingin cepat – cepat pulang.
Tetapi saat kamu melintasi tembok itu, tiba – tiba ada suara yang memanggil dari atas tembok, “Hoy!”, ujar suara itu. Seketika kamu langsung memberhentikan langkahmu dan menengok ke atas. Dan tidak ada apa – apa di atas tembok itu, tetapi kau bisa mendengar suara tertawaan yang sangat samar dari tempatmu berdiri.
Kamu memutuskan untuk berdiri menunggu suara itu memanggil lagi. Kamu berdiri mematung dengan kepala melihat kearah atas tembok.
Dan benar saja, setelah kamu menunggu selama beberapa menit, kamu melihat dua tangan kecil yang mencengkram tembok itu dan sesosok kepala berambut panjang yang mengintip dari atas tembok itu. “Eh!”, ujar sosok itu sebelum menyembunyikan dirinya sekali lagi. Tidak lama, sosok itu memunculkan kepalanya lagi, dan kini ia tidak sembunyi lagi melainkan langsung menampakkan seluruh bagian kepalanya dengan wajah tersenyum.
“Hihiii”, anak berambut panjang itu tertawa dengan nada yang iseng, wajahnya yang bulat membuat tawanya sangat menyenangkan.
“Kaget?”, anak itu bertanya. Kamu melihat anak itu dengan wajah yang datar dan menggeleng – geleng karena kamu tidak kaget sama sekali, kamu hanya penasaran.
“Yah, ngga seru nih”, ucapnya sambil tetap tersenyum. Lalu dia tanpa segan langsung berkata,
“Eh, sini ikutan yuk! Pemandangan dari sini bagus loh, kita juga bisa ngagetin orang”, ucapnya mengajakmu.
Awalnya kamu segan untuk menerima ajakan anak itu, tetapi rasa penasaranmu akan apa yang ada di balik tembok itu membuat keinginanmu menerima ajakan anak itu meningkat.
“Itu rumah kamu?”, kamu bertanya kepada anak itu, memberi tanda bahwa kamu menerima ajakan anak itu. “Iya dong! Ini rumah kita!”, jawabnya dengan “kita” yang berarti “aku”
Lalu anak itu memaksamu untuk bergabung dengannya, “Ayo sini aja! Sini!”, ujarnya sambil menggerakan tangannya. Kamu ingin pergi ke sana tetapi, “Bagaimana cara kesana?”, tanyamu kepada anak itu.
Anak itu lalu berpikir sejenak dan berkata, “Kamu jalan ke rumah yang ada di sana tuh! Nanti aku jemput!”, ucapnya sambil menunjuk ke rumah yang ada di ujung sebelah kanan tembok itu.
Anak itu berbicara pada seseorang dibawahnya, “Mang, tolong jemputin dia di sana dong”, teriaknya menghadap ke bawah. “Iya, aku turun dulu ini”, ujar anak itu menghadap ke bawah, “Tunggu ya!”, ia melambai ke arahku lalu dia turun dari tempatnya.
Hal – hal tentang mengambil pianika luput dari dalam kepalamu karena kamu terlalu antusias untuk melihat rumah anak itu, rumah yang ada di balik tembok itu.
Kamu berjalan kearah rumah yang ditunjuk oleh anak tadi, dan sesaat kamu sampai di depan pagar kayu yang terlihat asri, kamu melihat seorang laki – laki tua berdiri di depan pintu yang terbuka dengan wajah tersenyum hangat, laki – laki itu sepertinya sudah berumur 70 tahun atau lebih.
“Sini a’, masuk aja”, ujar lelaki itu dengan logat sunda. Kamu mengangguk lalu melangkah masuk ke rumah itu.
Saat kamu ada di dalam, kamu melihat anak yang tadi berdiri tersenyum di tengah ruang tamu. Anak itu memakai baju dress berwarna putih yang sangat lucu, banyak bekas – bekas tanah di baju itu, dan anak itu tidak memakai alas kaki apapun.
Lalu anak itu tiba – tiba mendekat kearahmu dan berteriak sambil memegang tanganmu,
“Halo! Ayo! Sini!”, ujarnya sambil menarikmu kearah sebuah pintu. Langkah anak itu sangat enerjik membuatmu sedikit kewalahan. Anak itu membuka pintu dan terlihat di depan matamu pemandangan yang sangat indah, sebuah rumah yang besar dikelilingi dengan rerumputan dan pohon – pohon yang tidak terlalu tinggi, ada sebuah air mancur di depan pintu rumah besar itu, dan dari depang pintu rumah itu ada jalan aspal yang mengarah ke gerbang utama rumah itu. Rumah itu sangatlah mewah dan juga asri, kamu bisa menebak bahwa anak itu adalah anak orang kaya.
Anak itu membawamu ke sisi lain dari tembok yang selalu kamu perhatikan, “Pak! Bantuin aku sama dia naik lagi dong!”, ujar anak itu kepada lelaki tua yang menjemputku tadi. “Rumahmu yang mana?”, kamu bertanya.
Anak itu lalu menunjuk ke rumah mewah, “Yang itu”, lalu anak itu memindahkan tangannya menunjuk kearah rumah yang tadi kamu lewati, “Yang itu rumahnya Pak Fathur”, ucap anak itu. Pak Fathur mendekat lalu berbicara, “Neng, ngga bisa berdua dong naiknya, tangganya cuman bisa buat satu orang”, ucap Pak Fathur sambil memegang tangga yang terbuat dari bambu.
“Yah…, Ngga apa, aku bisa geser – geser kok Pak!”, ujar anak itu merengek. Pak Fathur, menggelengkan kepala dan berkata, “Ngga neng, bahaya, nanti jatuh lagi baru tahu rasa”, ucapnya sambil tersenyum, penggunaan kata “ jatuh lagi” mengingatkanmu pada suara benda terjatuh yang kamu dengar tadi siang.
“Ah… Atau ngga aku naik duluan, terus aku nanti naik ke tembok dulu, baru dia naik”, ucap anak itu keras kepala. Pak Fathur menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Bahaya neng…”
“Yah… aku kan pingin kasih lihat ke dia enaknya ada di atas situ”, rengek anak itu. Pak Fathur lalu mendekati anak itu lalu bilang,
“Gini aja deh, Aki punya sesuatu yang bisa buat kalian naik berdua ke atas situ”, Pak Fathur merogoh saku celananya, “Tapi, A’a sama Neng Thalia harus menunggu dan merawat sesuatu ini ya”, ucapnya sambil mengeluarkan tangannya yang dikepalkan dari saku celananya.

Kamu sampai di lingkungan rumah masa kecilmu, dan yang pertama kali kamu kunjungi adalah tembok itu. Kamu mengamati tembok yang tidak setinggi dulu. Tidak ada yang berubah, hanya saja tembok itu tampak lebih kotor dan terlihat sebuah pohon yang rantingnya keluar dari atas tembok. Sepertinya pohon itu adalah sebuah pohon yang besar.
Setelah kamu bernostalgia selama beberapa saat. Kamu pergi kearah rumahmu dan melihat sudah ada seseorang yang datang. Kamu tahu mobil itu adalah mobil punya pamanmu. Tadi memang kamu sudah dihubungi oleh Orangtuamu bahwa Paman-mu akan memberikan kunci rumah.
Kamu mengetuk pintu rumahmu dan tidak lama Paman-mu berteriak dari dalam, “Yo!”, kamu menunggu selama beberapa saat sebelum Paman-mu membuka pintu dan mengajakmu masuk. “Ayo sini! Ini Om udah bawa kunci rumahnya, nanti rumahnya kamu bersihin yah yang bener”, ucap Paman-mu tanpa basa – basi. “Om ada urusan jadinya Om langsung pergi ya”, ucap Paman-mu sambil menepuk pundakmu. Kamu tidak sempat berterima kasih kepada Paman-mu, karena Paman-mu langsung beranjak keluar dan pergi dengan mobilnya.
Kamu melihat Paman-mu melambai kepadamu lalu memencet klakson mobil, kamu membalasnya dengan mengangguk sambil tersenyum.
Kamu lalu mengunci pintu rumahmu, kamu lalu membereskan rumah yang sedikit kotor itu, kamu membersihkan debu – debu dari atas meja menggunakan tisu basah, dan juga membereskan buku – buku dari atas kasur di kamar yang dulu adalah kamar tidur orangtuamu.
Setelah membersihkan sebagian dari rumah, kamu memutuskan untuk berbaring sebentar di atas kasurmu, kamu memutuskan untuk tidak membersihkan kamar yang ada di loteng, karena kamu terlalu malas dan terlebih kamu tidak akan memakai kamar itu untuk tidur. Kamu berbaring, matamu mulai memberat dan akhirnya kamu tertidur lelap.
“Hihii, kita tunggu ya!”
“Iya!”
“Kalian ngapain sih?”
Kamu terbangun, kamu membuka matamu pelan – pelan dan kamu tersadar hari sudah gelap dan kamu belum menyalakan lampu rumahmu. Kamu meraba – raba dan memencet saklar lampu kamar itu. Dan kamu menyalakan semua lampu di semua kamar rumah itu, kecuali kamar loteng karena kamu pikir itu adalah perbuatan yang boros listrik.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, kamu sadar bahwa kamu tertidur cukup lama. Kamu kelaparan, benar saja, kamu belum makan semenjak tadi pagi. Kamu buka buffet di dapur rumahmu untuk mencari apakah ada mie instan untuk dimakan, tetapi buffet itu hanya diisi dengan peralatan masak yang sudah kotor. Kamu membuka kulkas dan hasilnya sama, kosong. Kamu memutuskan untuk membeli sesuatu diluar, kamu memakai jaketmu, dan beranjak keluar rumah.
Kamu berjalan melewati tembok itu, tembok rumah anak itu. Kamu berpikir apakah anak itu masih tinggal disitu atau bagaimana. Karena setelah kamu pindah dari rumah dulu, yang kamu pikirkan hanyalah anak itu. Karena dialah satu – satunya yang kamu suka, yang kamu percaya, dan yang percaya kepadamu.
Kamu pergi ke sebuah warung nasi goreng, kamu memesan dan menunggu selama kira – kira 15 menit. Kamu pulang dengan kantong kresek berisi nasi goreng. Kamu lihat jam di telepon genggammu yang menunjukkan pukul 11. Kamu berjalan melewati tembok itu lagi. Tembok itu memantulkan sinar bulan yang pada hari itu sangat bulat. Kamu berhenti sejenak mengingat – ingat masa – masa kamu masih ada di balik tembok itu. Kamu tersadar bahwa rumah Pak Fathur masih ada di situ. Tetapi kamu tidak yakin apakah Pak Fathur masih ada di situ.
Kamu melangkah menuju rumahmu, lalu tiba – tiba langkahmu dihentikan oleh suara yang memanggilmu dari atas.
“Hoy!”, ujar suara itu.
Kamu berhenti dan melihat kearah atas tembok dan tidak percaya apa yang kau lihat, kamu melihat sosok yang sangat familiar, anak gadis berambut panjang yang senyumnya sangat menyenangkan, namun dengan tubuh yang sudah dewasa sedang berpangku kedua tangannya di atas tembok yang disinari oleh bulan purnama.
“Tata…”, ucapmu kaget karena keberadaannya.
“Hehe…”, Tata tersenyum, senyumannya tidak berubah sama sekali.

Sumber : http://davinsuniverse.wordpress.com/2014/08/10/batas-dunia-ch-1/
Copyright © 2014 Sharia on Blog and Blogger Templates - Anime OST.