Batas Dunia Ch. 2
Oleh Ian Davin
Kamu pulang dari sekolah, kamu langsung bergegas ke rumah. Kamu masuk ke kamarmu dan melempar tas ke atas kasur. Kamu langsung membuka baju dan menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Kamu terburu – buru karena ingin bermain bersama anak itu, Tata.
“Cia! Udah sore! Ayo masuk sini!”, ucap seseorang dari kejauhan.
“Nama kamu CIa?”, kamu bertanya kepada anak itu.
“Aku Thalia, tapi di panggil sama mami-ku Cia”, ucap anak itu sambil terus menggali dengan tangannya.
“Aku panggil kamu Cia aja ya”, ucapmu kepadanya.
“Jangan! Kamu panggil aku Tata aja”, ucap Tata.
“Oh, Ya udah”, ucapmu sambil mengangguk dan kembali menggali tanah.
“Kalau nama kamu siapa ya?”, tanya Tata kepadamu.
“……”
“Cia! Ayo mandi dulu! Udah sore!”, sebelum kamu menjawabnya, seseorang kembali berteriak dari kejauhan.
“Kamu aku panggil A’a aja ya, hehehe…. Kayak Pak Fathur”, ucap Tata lalu berdiri dan berteriak, “Iya! Sebentar lagi!”, teriak Tata kearah jendela rumahnya.
Kamu mengingat semua yang terjadi beberapa hari sebelumnya, kamu diberikan sebuah hadiah dari Pak Fathur berupa sebuah biji pohon sycamore , sejenis pohon ara. Kamu dan Tata berjanji untuk merawatnya setiap hari. Setiap hari kalian berdua merawat biji itu, dan di waktu sisanya kalian bermain segala macam permainan, entah rumah – rumahan, petak umpet bersama Pak Fathur, dan permainan tradisional lainnya. Maka dari itu hari itu pun kamu pergi ke rumah Tata untuk membantu Tata merawat biji yang kamu tanam beberapa hari sebelumnya. Setelah bersiap – siap, kamu bergegas lari keluar dari rumahmu.
“De!, mau kemana?”, teriak Ibumu dari dalam dapur.
Kamu berhenti sebentar dan berteriak, “Kerumah teman!”, dan kamu langsung kembali berlari keluar. Kamu mendengar kembali suara teriakan Ibumu tetapi kamu tidak dapat menangkapnya karena kamu sudah berada terlalu jauh untuk mendengar apa yang dikatakan ibumu.
Kamu berlari ke rumah Tata, Tata sudah melambai – lambai di depan rumah Pak Fathur. Kamu langsung tersenyum ke arahnya sebelum dia berlari masuk ke dalam rumah. Kamu berlari mengikutinya sampai meninggalkan pintu rumah Pak Fathur terbuka. Kamu keluar melalui pintu menuju rumah Tata, dan kau mendengar suara Pak Fathur dari belakang “Neng Thalia, pakai sandal atuh”, ujar Pak Fathur. Tata memang anak yang bisa dibilang agak hiperaktif, dia suka sekali berlari kesana – kesini sehingga terkadang membuatmu kewalahan. Dia juga tidak pernah memakai alas kaki jika bermain di tamannya.
“Sini! Sini A’!”, Teriak Tata yang kini berdiri di dekat sebuah gundukan kecil dekat tembok tinggi rumahnya. Tata lalu jongkok memperhatikan gundukan itu. Kamu juga ikut jongkok lalu bertanya kepada Tata, “Ta, udah kamu siram?”, ucapmu kepadanya. Lalu Tata menjawab, “Udah dong!”, jawabnya sambil tersenyum.
“Oh iya, Pak Fathur tadi ngasih kita pupuk loh!”, ucap Tata. “Pupuk? Buat apa itu?”, tanyamu. “Kata Pak Fathur sih supaya nanti tanamannya sehat”, jawab Tata sambil mengelus – elus gundukan kecil itu.
Lalu tiba – tiba seseorang berkata, “Ta! Kamu ngapain?”, ujar suara tersebut. Kamu menengok kearah pemilik suara itu dan melihat seorang anak lelaki yang berpakaian rapi, memakai sandal, rambutnya sangat tersisir rapi.
“Eh! Deryl! Aku lagi maen apa ya? Aku lagi maen ngurusin anak nih !”, ucap Tata kepadanya dengan nada gembira, “Aku ibunya, dia Ayahnya! Nah anaknya ini nih”, ucap Tata mengelus – elus gundukan kecil itu. Entah kenapa kamu merasa malu dibilang sebagai Ayah. Tetapi kamu juga merasa senang.
Tetapi sepertinya anak bernama Deryl itu tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan Tata. Dia lalu berteriak, “Kotor tau!”, sambil menendang gundukan kecil itu berkali – kali sampai tanahnya berserakan. Kamu melihat gundukan tanah yang kini berserakan, kamu sangat kesal, dan kamu tidak bisa mengendalikan diri sehingga kamu memukul anak itu. Duk! Kamu memukul anak itu tepat di pipi kanannya. Kamu ingin memukul anak itu sekali lagi tetapi Tata menghentikanmu, “Jangan A’! Udah!”, Anak itu terjatuh dan air mata mulai mengalir dari matanya, ia melihat mu dengan wajah kesal sebelum berlari sambil menangis ke dalam rumah Tata. Kamu tahu bahwa kamu berada dalam masalah.
Benar saja, Ibu Deryl dan kedua orang tua Tata keluar dari dalam rumah lalu memanggil Kamu dan Tata. “Kamu kok bandel banget sih! Maen pukul – pukul aja!”, bentak Ibu Deryl kepadamu. “A’a ngga salah! Orang Deryl duluan yang iseng!”, Tata membelamu didepan Deryl dan Ibunya. “Tetap aja ngga boleh mukul dong! Kecil – kecil udah kasar”, bentak Ibu Deryl. “Udah lah Bu, namanya juga anak laki – laki, berantem wajar”, ucap Ayah Tata menenangkan Ibu Deryl. Ibu Deryl tidak mengacuhkan omongan Ayah Tata dan berkata kepada orangtua Tata, “Mas, ini bilangin ke anak ini, kalo kasar jangan main sama Cia”, ucap Ibu Deryl kepada Ayah Tata.
Orangtua Tata hanya bisa diam, bukannya mereka takut kepada Ibu Deryl, mereka tidak ingin masalah yang bertambah besar. “Nak, pulang gih sana, kalau kasar ngga boleh main sama Cia”, kamu diam dan lalu berbalik badan dengan mata yang berkaca – kaca karena takut setelah dibentak Ibu Deryl. “Tapi A’a ngga salah pah!”, kamu bisa mendengar Tata merengek. Hari itu kamu pulang kerumah dengan perasaan sedih. Baru saja beberapa hari mengenal Tata, tetapi karena kejadian tadi itu kamu berpikir kamu mungkin tidak akan bisa bermain dengan Tata lagi.
Kamu menjalani dua hari berturut – turut tanpa bermain bersama Tata, setelah kejadian itu pun entah mengapa kamu selalu berjalan melewati tembok rumah Tata dengan terburu – buru. Dan di hari selanjutnya kamu pun tidak bermain bersama Tata, kamu menghabiskan hari dengan membaca komik dan menonton film kartun dirumah.
Setelah matahari tenggelam, kamu makan malam bersama keluargamu di ruang makan. Kamu kehilangan nafsu makan karena bosan, atau mungkin karena kamu merindukan Tata. Kamu rindu bermain dengannya.
Saat kamu melihat keluar jendela rumahmu, kamu melihat sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Tata. Kamu langsung berlari keluar rumah dan mendekati Tata yang berdiri dengan ekspresi sedih.
“Tata, kamu ngapain?”, tanyamu kepada Tata yang matanya berkaca –kaca.
Dia tidak menjawab pertanyaanmu, matanya semakin bertambah basah dan mukanya menjadi cemberut. Akhirnya pun Tata menangis, “Huaaaaaaa……..”, dia hanya menangis tetapi kamu bisa tahu kenapa dia menangis. Dia juga merindukanmu.
Kamu memegang tangan Tata dengan erat, “Udah jangan nangis”, kamu memutuskan untuk membawa Tata masuk kerumahmu dan bicara kepada ibumu.
Ibumu lalu berkata setelah melihat Tata yang menangis, “Loh , itu kenapa nangis de?”, tanya ibumu sambil mendekati Tata. Ibumu lalu mengajak Tata untuk duduk di meja makan rumahmu, dan memberikannya toples berisi coklat. Coklat itu adalah favoritmu dan kamu tidak suka membaginya dengan orang lain. Tetapi entah kenapa kamu tidak apa membagi coklat itu kepada Tata, karena setelah makan coklat itu, Tata langsung berhenti menangis.
“Enak kan?” , ucap Ibumu kepada Tata. Ekspresi Tata kembali menjadi cerah, dia tersenyum kepada Ibumu. “Nama kamu siapa?”, tanya Ibuku kepada Tata. “Thalia…”, jawab Tata dengan suara yang masih serak.
“De, nanti kita antar Thalia pulang ya”, ujar Ibumu. Kamu mengangguk.
“De, nanti kamu antar aku pulang ya”, ucap Tata dengan wajah tersenyum. Ibumu tersenyum sambil mengelus – elus kepala Tata. Kamu agak kesal karena dipanggil “De” oleh Tata.
Lalu setelah itu kamu dan Ibumu mengantar Tata pulang. Sepanjang jalan Tata terus menggenggam erat tanganmu, dia benar – benar rindu kepadamu. Membuatmu berpikir apakah dia tidak mempunyai teman lain? Bagaimana dengan anak yang ada kemarin?
Kamu menyangkal pikiran itu dan akhirnya sampai didepan rumah Pak Fathur. Sesampainya, Pak Fathur langsung memanggil kedua orangtua Tata. Mereka berdua sangat khawatir karena Tata menghilang setelah matahari tenggelam. Kedua orangtua Tata berterima kasih kepadamu dan Ibumu, dan juga meminta maaf atas kejadian beberapa hari sebelumnya. Mereka bilang Tata sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Eh, kamu ini kok bandel ya maen mukul mukul aja”, ucap Ibumu.
“Haha, tapi ngga apa apa kok Bu, laki – laki harus bisa ngelindungin anaknya”, ucap Ayah Tata. Mungkin dia berkata begitu karena kamu memukul anak itu karena dia telah mengganggu apa yang sedang kamu rawat, biji pohon sycamore itu.
“Tapi bukan berarti kekerasan itu jawaban dari semuanya ya”, ucap ayah Tata sambil mengelus – elus kepalamu. Dengan itu pun kamu pamit kepada Tata dan keluarganya.
“Besok main ya!”, teriak Tata kepadamu. Kamu menjawab, “Iya!”, dengan semangat.
—————————————————————————————————————
Kamu bangun dari tempat tidurmu, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Kamu berpikir apa yang harus kamu lakukan pada liburan kali ini. Karena kamu bukanlah orang yang suka berdiam diri tidak melakukan apa – apa. Kamu mengingat janjimu kemarin malam setelah bertemu dengan Tata setelah sekian lama.
“Udah lama ya”, ucap Tata kepadamu.
Kamu hanya bisa diam menatap sosok yang familiar itu, sosok yang mungkin adalah satu – satunya orang yang mengerti kamu.
“Kok diem aja”, ucap Tata sambil melambai – lambaikan tangan menarik perhatianmu.
“Eh…iya, kamu masih disini?”, tanyamu kepada Tata.
“Iya dong, aku sih ngga pernah pindah”, ucap Tata dengan nada yang gembira.
“Eh udah nih, udah malam. Besok aku kerumah kamu ya!”, ucap Tata dengan gembira sebelum menghilang turun dari tembok.
“Dadaah!”, kamu mendengar suara Tata dari balik tembok. Kamu belum sempat menjawab apa – apa, dia sudah menghilang.
Kamu duduk di pinggir kasur. Kamu berniat untuk merapihkan rumahmu lagi karena Tata bilang dia ingin main kerumahmu. Tetapi saat kamu melangkah keluar kamu merasa rumahmu sudah lebih rapi daripada sebelumnya. Dan saat kamu melangkah keluar dari kamar,
“Oy! Udah aku bantuin ngerapihin rumah nih!”, Ucap Tata yang duduk di kursi meja makan.
Kamu terkaget karena Tata tiba – tiba muncul di dalam rumahmu, “Kamu gimana masuknya?”, tanyamu kepada Tata. Kamu mengecek pintu rumah namun pintunya terkunci, lalu Tata berkata dari belakang, “Tadi ngga terkunci kok”, ucap Tata membuatmu bersyukur karena yang masuk hanyalah Tata, bukan pencuri atau siapapun yang berbahaya.
“Eh! Hari ini kita main ke Taman yuk!”, ucap Tata yang tiba – tiba ada di depanmu setelah kamu berbalik badan.
“Hah? Ngapain?”, tanyamu kepadanya. Kamu berpikir kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah tidak bisa bermain apa – apa lagi di taman. Kamu tidak mau.
“Ayolah ikut aja!”, rengek Tata yang mengikutimu kemanapun kamu melangkah. Kamu tidak bisa melawan Tata. Kamu akhirnya setuju untuk pergi ke taman. Tetapi kamu teringat akan satu anak lagi yang kamu temui disini, Deryl. Anak yang selalu kamu benci, tetapi tak diragukan lagi Deryl dan Tata adalah 2 teman masa kecilmu, dan kamu ingin bermain kembali bersama mereka berdua. Kamu meminta kontak Deryl kepada Ibumu, karena setelah satu hal dan hal lainnya, Ibu Deryl dan Ibumu menjadi sahabat.
Sumber : http://davinsuniverse.wordpress.com/2014/08/25/batas-dunia-ch-2/
Sumber : http://davinsuniverse.wordpress.com/2014/08/25/batas-dunia-ch-2/

0 komentar: